Kitakini.news - Musim ini sempat terasa seperti akhir sebuah era bagi Manchester City. Mesin juara milik Pep Guardiola goyah, kehilangan ritme, bahkan beberapa kali terlihat rapuh di momen-momen yang biasanya mereka kuasai dengan mudah.
Di awal musim Premier League 2025/2026, City tidak tampil seperti monster yang mendominasi Inggris dalam beberapa tahun terakhir. Cedera pemain penting, jadwal padat, hingga inkonsistensi lini belakang membuat mereka beberapa kali terpeleset.
Hasil imbang melawan tim-tim papan tengah dan kekalahan di laga besar membuat Arsenal perlahan mengambil alih puncak klasemen.
Bahkan ketika Arsenal unggul lima poin pada awal Mei, banyak yang mulai percaya bahwa era dominasi City akhirnya akan runtuh. Hasil imbang dramatis 3-3 melawan Everton menjadi titik yang paling menyakitkan. City kehilangan kendali perburuan gelar dan nasib mereka tak lagi berada di tangan sendiri.
Namun justru di situlah karakter Manchester City muncul. Tim asuhan Guardiola tidak menyerah. Mereka terus menang, terus menekan, dan memaksa Arsenal merasakan tekanan yang semakin berat menuju garis akhir musim. Kemenangan demi kemenangan membuat jarak yang sempat terlihat aman kini kembali menipis.
Puncaknya terjadi saat City menghancurkan Crystal Palace 3-0 di Etihad Stadium. Kemenangan itu memang belum mengubah posisi klasemen, tetapi mengubah suasana perebutan gelar secara total. Arsenal masih memimpin dengan 79 poin, tetapi City kini hanya terpaut dua angka dengan dua pertandingan tersisa.
Yang membuat situasi semakin menarik adalah jadwal akhir kedua tim.
Arsenal masih harus menghadapi Burnley dan Crystal Palace. Di atas kertas, dua laga itu terlihat lebih ringan. Tetapi tekanan psikologis justru bisa menjadi lawan terbesar mereka. Arsenal tahu satu kesalahan saja dapat membuka pintu bagi City.
Sementara itu, City akan menghadapi Bournemouth dan Aston Villa. Dua lawan yang jauh lebih berbahaya karena sama-sama masih memburu tiket kompetisi Eropa musim depan. Bournemouth sedang berada dalam performa bagus, sedangkan Aston Villa punya kualitas untuk menyulitkan siapa pun.
Secara matematis, peluang Arsenal masih lebih besar karena mereka memegang kendali penuh. Jika The Gunners memenangkan dua laga tersisa, gelar otomatis menjadi milik mereka tanpa memedulikan hasil City.
Namun Manchester City memiliki satu hal yang sulit diukur dengan angka: pengalaman. Dalam hampir satu dekade terakhir, Guardiola dan skuadnya berkali-kali menghadapi tekanan perebutan gelar hingga pekan terakhir. Mereka tahu bagaimana mengelola emosi, menjaga ritme, dan memanfaatkan kepanikan rival.
Sebaliknya, Arsenal masih dibayangi trauma kegagalan musim-musim sebelumnya. Tekanan untuk mengakhiri penantian panjang juara liga bisa menjadi beban besar ketika musim memasuki titik paling menentukan.
Pep Guardiola sendiri mencoba menjaga keyakinan timnya tetap hidup.
"Kami hanya harus terus menang. Setelah itu kami lihat apa yang terjadi," ujar Guardiola usai kemenangan atas Palace.
Ucapan itu terdengar sederhana, tetapi menjadi gambaran mentalitas City saat ini. Mereka tidak lagi bermain untuk sekadar berharap. Mereka bermain untuk memaksa Arsenal sempurna sampai akhir musim.
Menariknya, City juga unggul selisih gol atas Arsenal. Jika kedua tim finis dengan poin sama, keunggulan produktivitas bisa menjadi penentu gelar. Itu sebabnya kemenangan telak atas Crystal Palace terasa sangat penting.
Kini Premier League memasuki dua pekan terakhir yang penuh ketegangan. Arsenal memang berada di depan, tetapi Manchester City masih terus mengejar dengan napas panas di belakang mereka.
Tim yang sempat terseok-seok di awal musim itu ternyata belum habis. City masih hidup, masih berbahaya, dan masih percaya bahwa mahkota Premier League belum benar-benar lepas dari tangan mereka.
Sumber: Reuters, BBC Sport, PremierLeague.com, The Guardian, NBC Sports, Al Jazeera