Kitakini.news - Atmosfer panas Lumpinee Stadium kembali tertuju kepada satu nama besar,
Superlek Kiatmoo9. Namun kali ini, sang "The Kicking Machine" datang bukan sebagai raja yang dielu-elukan, melainkan petarung yang sedang memburu penebusan.
Sorotan lampu Lumpinee Stadium kembali tertuju kepada satu nama besar: Superlek Kiatmoo9. Namun kali ini, sang "The Kicking Machine" datang bukan sebagai raja yang dielu-elukan, melainkan petarung yang sedang memburu penebusan.
Pada ajang ONE Championship: The Inner Circle, Jumat (15/5/2026), Superlek akan menghadapi ancaman baru bernama Abdulla Dayakaev dalam duel Muay Thai kelas bantamweight yang diprediksi berlangsung brutal sejak ronde pertama.
Pertarungan ini terasa seperti benturan dua generasi berbeda. Di satu sisi ada Superlek, legenda Thailand dengan rekor 139 kemenangan yang pernah menaklukkan nama-nama besar seperti Rodtang, Jonathan Haggerty, hingga Takeru Segawa. Di sisi lain berdiri Dayakaev, petarung muda asal Dagestan yang datang membawa reputasi sebagai mesin knockout dengan pukulan eksplosif.
Bagi Superlek, laga ini lebih dari sekadar comeback. Tahun 2025 menjadi periode paling pahit dalam kariernya. Ia kehilangan sabuk Muay Thai bantamweight karena gagal timbang, lalu menelan dua kekalahan beruntun dari Nabil Anane dan Yuki Yoza. Situasi itu membuat banyak orang mulai mempertanyakan apakah era Superlek telah selesai.
Namun petarung Thailand itu justru merasa api dalam dirinya kembali menyala.
"Saat mereka menawarkan Abdulla Dayakaev, saya langsung bilang iya," kata Superlek. "Saya sudah melihat pertarungannya. Saya merasa bisa mengatasi gaya bertarungnya," ujarnya.
Superlek sadar ancaman terbesar lawannya ada pada kekuatan pukulan. Dayakaev dikenal agresif, suka menekan lawan tanpa memberi ruang bernapas. Dari delapan kemenangan di ONE Championship, enam di antaranya berakhir lewat penyelesaian cepat.
"Keunggulan Abdulla ada di pukulan dan ukuran tubuhnya. Kalau terkena pukulannya, Anda bisa jatuh. Tapi saya melihat ada celah dalam permainannya dan saya akan memanfaatkannya," ucapnya.
Menariknya, Superlek mengaku tidak datang untuk bermain aman. Ia justru membidik kemenangan KO di depan publik Thailand.
"Sudah lama saya tidak bertarung di Thailand. Kali ini saya lapar. Saya ingin knockout," ucapnya. "Persiapan saya sangat detail. Saya mencari titik butanya," ungkapnya.
Di kubu lawan, Dayakaev datang dengan keyakinan penuh. Petarung 24 tahun itu percaya dirinya memiliki kekuatan yang belum pernah dirasakan Superlek sepanjang kariernya.
"Saya mempersiapkan diri menghadapi versi terbaik Superlek. Apakah dia punya masalah internal atau menyembunyikan sesuatu, saya tidak peduli. Saya siap untuk semuanya," ungkapnya.
Bahkan, Dayakaev melontarkan ancaman terang-terangan kepada legenda Thailand tersebut.
"Dia belum pernah menghadapi kekuatan seperti milik saya," tegas Dayakaev.
Ucapan itu bukan sekadar gertakan kosong. Meski sempat kalah KO dari Rambolek awal tahun ini, Dayakaev tetap dianggap salah satu striker paling berbahaya di divisi bantamweight. Gaya bertarungnya yang meledak-ledak sering membuat lawan kesulitan menemukan ritme.
Pertarungan ini juga menjadi persimpangan penting bagi kedua petarung. Jika Superlek menang meyakinkan, jalan menuju perebutan gelar atau rematch melawan Yuki Yoza akan terbuka lebar. Namun jika kembali kalah, tekanan terhadap kariernya akan semakin besar.
Sebaliknya, Dayakaev bisa langsung melonjak ke jajaran elite Muay Thai ONE jika berhasil menjatuhkan ikon Thailand itu di Lumpinee.
Secara teknik, duel ini menjanjikan pertarungan klasik antara presisi melawan agresi. Superlek unggul dalam tendangan kanan cepat, timing, dan pengalaman bertarung di level tertinggi. Sementara Dayakaev punya kombinasi tangan keras dan keberanian menekan tanpa henti.
Satu kesalahan kecil saja bisa mengakhiri malam lebih cepat.
Dan di arena sebersejarah Lumpinee, kisah kebangkitan atau kehancuran mungkin akan ditentukan hanya dalam satu pukulan.
Sumber: ONE Championship, bjpenn.com, MyKhel.